Guru Rantau Dimasa covid 19

Semua orang pastinya tidak terlepas dari sebuah proses belajar dan mengajar. Semua pasti bilang, guru itu adalah profesi yang mulia. Walaupun begitu, tidak semua orang memiliki keinginan kuat untuk menjadikan guru. Sebenarnya, jadi guru itu pekerjaan yang sangat mulia memang, bahkan juga memuaskan hati tetapi tantangan menjadi guru sangatlah beragam bukan hanya kita wajib mengikuti proses dan juga perkembangan jaman terlebih lagi kita wajib mengarungi tantangan dari penempatan pekerjaan itu sendiri.

Guru rantau itu merupakan bagian dari tantangan itu sendiri, pasti ada dibeberapa kawan kita yang mempunyai gelar “guru rantau” dimana itu semua hanya silogis yang bukan gelar pendidikan formal tetapi hanya gelar yang disandingkan beberapa orang untuk memotivasi keadaan dirinya, hal ini lah yang menjadi tangtangan tersendiri bagi seseorang yang menyabet gelar “guru rantau” dimana mereka akan mendapatkan kenikmatan proses dalam meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan tempat kerja,lingkungan serta meningkatakan kemapuan yang dimiliki oleh dirinya.

Menjadi guru rantau adalah suatu tantangan besar bagi seseorang apalagi yang jauh dari keluarga dimana banyak orang mempersibuk kesehariannya setelah habis bekerja atau mengajar bersama keluarga tapi ini hanya bisa melihat kegembiraan keluarga dari sebuah video conference dari jejaring sosial ataupun hanya sekedar mendengarkan lewat telpon seluler

Diterima kerja merupakan sesuatu yang sangat menggembirakan tetapi ketika di tempatkan di luar kota yang jauh dari rumah membuat semua orang mau tak mau harus menerima status barunya sebagai anak rantau yang mana otomatis menyadang status pejuang rantau apalagi kalau profesianya adalah seorang guru pastinya akan sama menyabet gelar guru rantau.

Di tengah pandemi covid-19 ini lah tantangan yang luar biasa ketika bekerja di perantauan. Bahkan dengan adanya kebijakan pekerjaan di kerumahkan (WFH) dimana hanya bisa bekerja di kos-kosan atau di rumah kontrakan sedangkan untuk pulang dibatasi karna bukan pilihan tepat untuk pulang kampung apalagi di daerah zona merah sehingga mau tidak mau tetap di jalani dengan senang hati walaupun pasti akan ada sedikit mengeluh tetapi semua itu otomatis akan terobati oleh adanya rekan kerja yang menemani.

Pandemi Covid-19 ini menjadi pengingat kita bahkan dunia bahwa kelangsungan dunia pendidikan di masa depan tidak akan jauh dari bantuan teknologi. Namun, teknologi tetap tidak dapat menggantikan peran seorang guru karena perlunya interaksi belajar antara pelajar dan pengajar sebab edukasi bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang prosea kerja sama, nilai itu sendiri serta kompetensi yang wajib di dapat peserta didik. Situasi pandemi ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita seharusanya apalagi bagai guru rantau dimana kita perlu meningkatkan kemampuan kita di bidang teknologi untuk meredakan rasa kangen kita teehadap kampung halaman serta bisa membaginya dengan rekan kerja hal ini lah yang saya rasakan.

Belajar teknologi untuk KBM sangatlah menyengkan diman kita bisa memberikan pelayanan kepada peserta didik selama PJJ dengan media pembelajaran yang interkatif sehingga memudahkan peserta didik untuk memahami apa yang ingin di sampaikan. Media pembelajaran melalui classroom, microsoft 365, virtual meeting melalui zoom, G meet bahkan e learning madrasah memang perlu dipelajari dengan baik sehingga bisa menjadi salah satu alternatip selama PJJ kali ini.

Dengan berbagai keterbatasan dalam situasi pandemi Covid 19 menjadi tantangan seorang guru untuk terus mau belajar dan berlatih pembelajaran secara daring khususnya kita yang menyabet guru rantau kita wajib selangkah terdepan dari pada guru lain yang bertempat tinggal di sekitar sekolah tempat kita bekerja karena kenapa merka pasti akan sedikit terbagi ketika pulang kerumahnya tetapi kita karena jauh dari keluarga otomatis banyak waktu untuk mempelajari hal baru khususnya teknologi dalam penunjang kegiatan belajar mengajar. Bahkan kita wajib tertangtang untuk mampu menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan dan inovatif untuk mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi serta kolaborasi media pembelajaran agar pembelajaran tidak monoton dan tetap bisa menghadirkan suasana pembelajaran interaktif antara guru dan  peserta didik.

Maka dari itu tetaplah semangat wahai guru rantau dikala pandemi covid-19 ini karna bukan hanya kita sendiri banyak para pejuang rantau yang lain juga merasakan apa yang kita rasakan buatlah karya sebisa mungkin dan tetaplah menerapkan pola hidup sehat karna di jauh sana keluarga kita menanti kabar baik kita.

Kesepian memang menyebalkan, terutama bagi anak rantau di tengah tengah pandemi covid-19 ini. Kenyataan ini pahit, tapi inikah cobaan hidup tetap semangat pejuang rantau khususnya untuk kita guru rantau.

Ingatlah kata – kata motivasi dari Nabila inayah dimana dia berkata adakah yang harus ditakutkan dari sebuah perubahan? Adakah yang perlu dirisaukan ketika kamu meninggalkan zona nyaman demi menjemput kesuksesan? Berbahagialah kalian yang pernah atau sedang berjuang di perantauan kalian yang enggan menikmati hidup dalam kesia-siaan!
Nah kata kata itu kah yang harus kita dalami dan menjadi pupuk semangat untuk jiwa – jiwa pejuang rantau yang pulang nanti dengan kesuksesan walaupun sekarang di tengah-tengah pandemi covid-19 tetap lah kuat karna di atas kita masih ada yang menciptakan kita yang akan menjaga kita asalkan kita selalu patuh pada perintahnya dan menjauhi larangannya.

Semangat terus pejuang rantau terkhusus guru rantau, hari esok akan bahagia dengan kabar yang lebih menyenangkan dimana kita tidak tau akan seperti apa kita nanti tetapi peluangan itu akan ada sehingga kita bisa bersama dengan keluarga kita tercinta di kampung halaman.

Penulis : Heri Herdianto,S.Pd
(Guru Sejarah MAN 1 Bekasi)